Hotline News

Gema Budaya dan Iman, Warga Katolik Simalungun Jabodetabek Gelar Misa Nuansa Daerah di Jakarta

waktu baca 3 menit

Penulis: Agus Siringoringo

Editor: Liber Simbolon

Senin, 21 Sep 2026 12:47 115

 

​Jakarta, Berita presisi — Simalungun dikenal luas dengan filosofi Habonaron Do Bona serta salam khas penuh makna, Diateitupa. Semangat persaudaraan dan keimanan ini terpancar erat saat warga asal Simalungun beragama Katolik yang tinggal di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya berkumpul menggelar perayaan Ekaristi dan Misa di Bale Bolon NETRAJA, Jatibening Baru, Bekasi-Jakarta.

​Misa bernuansa budaya Simalungun ini dipimpin langsung oleh Pastor Noris Purba, OFMCap, Pastor Kepala Paroki Gereja St. Fransiskus Asisi Saribudolok, Sumatera Utara, yang sedang bertugas di Jakarta. Terlantunnya lagu-lagu pujian dan liturgi berbahasa Simalungun membuat sekitar 100 umat yang hadir tampak khusyuk dan khidmat mengikuti seluruh rangkaian ibadah.

​Dalam homilinya, Pastor Noris membagikan kisah masa mudanya yang mengharukan dan inspiratif. Sebagai anak sulung dari empat bersaudara, beliau dibebani tanggung jawab oleh ibunya (br. Turnip) untuk menjaga adik-adiknya. Meski gemar bermain bola, perjalanan hidup membawanya tinggal di asrama dan melanjutkan pendidikan ke Seminari hingga akhirnya berproses menjadi seorang imam.

​Menariknya, beliau juga menyisipkan cerita berkesan tentang asal-usul namanya. “Hanjaima ibaen Bapa asal goranku Norris. Bapa pengagum Chuck Norris,” kenang Pastor Noris diiringi senyum umat, menceritakan sang ayah yang mengagumi aktor laga asal Amerika tersebut. Nasib dua Norris pun berjalan berbeda: satu menjadi aktor laga, dan satu lagi memilih jalan menjadi seorang pastor.

​Selain kisah personal, Pastor Noris mengupas perumpamaan Injil tentang Tuan tanah dan para pekerja yang mendapat upah sama yaitu satu dinar, baik yang bekerja sejak pukul 5 pagi maupun pukul 5 sore. Pesan ini menekankan rasa syukur, keadilan, serta kemurahan hati Allah atas kesepakatan hidup yang telah ditetapkan-Nya.

​Merawat Identitas Budaya di Perantauan

​Rangkaian acara dilanjutkan dengan beberapa sambutan hangat. Ketua Harungguan Bolon Simalungun Katolik (HBSK), Aloysius Saragih, berharap agar kegiatan rutin ini terus merawat kearifan lokal. “Agenda Misa nuansa Simalungun ini mengingatkan kita yang ada di perantauan agar tidak lupa dengan bahasa dan kearifan lokal Simalungun,” ungkapnya.

​Dukungan serupa disampaikan Penasehat sekaligus Pendiri HBSK, Tulang Titus Purba dan Tulang Arifin Purba. “Acara on sangat bermanfaat untuk membangun silaturahmi ase lebih solid hita i rantau on,” ujar mereka, menegaskan pentingnya menjaga kebersamaan di tanah perantauan.

​Pastor Noris Purba turut menyampaikan rasa sukacitanya. “Malas uhur boi iundang mambobahon Misa i Jakarta on. Boi juppah pakon nasiam hita halak Simalungun,” tutur Pastor. Pada kesempatan tersebut, beliau juga mengabarkan kondisi pembangunan dan perluasan Gereja St. Fransiskus Asisi Saribudolok yang masih membutuhkan ulur tangan donatur. Secara spontan, kepedulian umat yang hadir malam itu tergerak hingga terkumpul dana bantuan mencapai dua digit.

​Sejumlah tokoh perantau Simalungun turut hadir mempererat kebersamaan, di antaranya Bang Simon Saragih (mantan wartawan senior Kompas), Makkela Jenda Damanik (konsultan pajak), serta Ketua OMK IKKSU Robby Nadeak.

​Perayaan yang digagas oleh Harungguan Bolon Simalungun Katolik (HBSK) bersama Tuppuan Namaposo Simalungun Katolik (TUNAS-K) ini diakhiri dengan doa berkat, sesi foto bersama, serta makan malam yang dipimpin langsung oleh Pastor Noris Purba. (Agus Siringoringo)

Penulis: Agus Siringoringo

Editor: Liber Simbolon

Sumber Foto: Biro Jakarta

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA