Hotline News

PEDAS! Harga Cabai Merah di Pekanbaru Tembus Rp120.000/Kg, Ibu-Ibu Panam Menjerit

waktu baca 4 menit

Penulis: Nofri

Editor: Rio

Selasa, 6 Okt 2026 12:57 44

PEKANBARU, BeritaPresisi.com – Harga cabai merah di sejumlah pasar tradisional Kota Pekanbaru kembali membuat masyarakat menjerit. Di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat, harga cabai merah di tingkat pedagang dilaporkan menembus Rp120.000 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut terasa tajam bagi masyarakat. Sebab, beberapa hari sebelumnya harga cabai masih berada di kisaran Rp70.000–Rp85.000 per kilogram.

Pantauan di sejumlah pasar menunjukkan harga cabai merah bervariasi. Pedagang di Pasar Lima Puluh, Pasar Cik Puan, Pasar Sail dan Pasar Simpang Baru dilaporkan menjual cabai hingga sekitar Rp120.000 per kilogram. Sementara di Pasar Rumbai dan Pasar Palapa, harga masih berada di kisaran Rp110.000 per kilogram, namun stok disebut mulai menipis.

Data resmi Sistem Informasi Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Pekanbaru pada 6 Oktober 2026 juga menunjukkan harga cabai merah keriting sudah berada pada level tinggi. Rata-rata 13 pasar pantauan tercatat sekitar Rp100.208 per kilogram, dengan harga tertinggi Rp110.000 per kilogram di Pasar Simpang Baru dan terendah Rp90.000 per kilogram di Pasar Induk Sementara.

Artinya, tekanan harga memang sedang terjadi di pasar, meski harga eceran yang ditemukan di lapangan dapat berbeda antara satu pedagang dengan pedagang lainnya.

Pasokan dari Sumbar Terganggu

Lonjakan harga diduga berkaitan dengan terganggunya pasokan cabai dari sentra produksi Sumatera Barat. Sejumlah pedagang menyebut pasokan dari wilayah Bukittinggi dan daerah sentra cabai di Sumatera Barat mengalami gangguan akibat kondisi bencana dan produksi yang menurun.

Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap rantai pasok menuju Pekanbaru. Ketika pasokan berkurang sementara kebutuhan masyarakat tetap tinggi, harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik.

“Dampak bencana di Sumbar besar. Semua naik, cabai, bawang, sayur. Kemarin masih Rp70 ribu, hari ini sudah Rp120 ribu,” ujar Eka, salah seorang pedagang di Pasar Cik Puan.

Para pedagang berharap distribusi dari daerah sentra produksi segera kembali normal sehingga pasokan ke Pekanbaru tidak terganggu dalam waktu lama.

Ibu-Ibu Panam Mengeluh

Kenaikan harga paling terasa bagi ibu rumah tangga. Cabai merupakan salah satu bahan kebutuhan dapur yang sulit dipisahkan dari menu makanan masyarakat Riau.

Seorang ibu rumah tangga di kawasan Panam mengaku kaget melihat kenaikan harga dalam waktu singkat.

“Kemarin Rp85 ribu, sekarang Rp120 ribu. Masak apa pun serba mahal,” keluhnya.

Menurutnya, kenaikan harga cabai membuat pengeluaran dapur semakin berat. Terlebih, cabai hanya salah satu dari sejumlah komoditas pangan yang harganya ikut mengalami perubahan.

“Kalau naik sedikit masih bisa disiasati. Tapi kalau sampai Rp120 ribu, tentu sangat terasa bagi kami,” ujarnya.

Pemerintah Terus Pantau Harga

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pekanbaru, Iwan Simatupang, mengatakan pemerintah terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan pasokan pangan.

Menurutnya, pasokan cabai dari sejumlah daerah lain seperti Jawa dan Medan masih tersedia, namun jumlahnya belum sepenuhnya mampu menggantikan pasokan dari Sumatera Barat.

“Kami terus memantau. Pasokan dari Jawa dan Medan masih ada, tetapi belum cukup,” katanya.

Pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat jalur distribusi alternatif agar ketergantungan terhadap satu wilayah pemasok dapat dikurangi.

Operasi Pasar Murah Disiapkan

Di tengah tekanan harga pangan, pemerintah juga terus melakukan intervensi melalui operasi pasar murah dan Gerakan Pangan Murah.

Pemprov Riau melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) bersama BUMD PT Riau Pangan Bertuah pada pekan ini menggelar operasi pasar murah selama lima hari di sejumlah lokasi di Kota Pekanbaru. Kegiatan tersebut ditujukan untuk menjaga ketersediaan bahan pokok sekaligus membantu menjaga stabilitas harga.

Sementara itu, Pemko Pekanbaru juga menyiapkan langkah intervensi melalui Gerakan Pangan Murah untuk membantu masyarakat sekaligus meredam tekanan harga komoditas pangan.

Sistem pemantauan harga TPID Kota Pekanbaru sendiri saat ini mencakup sejumlah pasar tradisional dan dilakukan melalui koordinasi Disperindag serta Disketapang.

Jangan Sampai Cabai Jadi Beban Baru Masyarakat

Kenaikan harga cabai menjadi perhatian karena komoditas tersebut termasuk kebutuhan pangan yang konsumsinya cukup tinggi. Pemerintah dituntut tidak hanya memantau harga di pasar, tetapi juga memastikan rantai pasok dari sentra produksi hingga pasar Pekanbaru tetap berjalan.

Jika gangguan pasokan dari Sumatera Barat berlangsung lebih lama, bukan tidak mungkin tekanan harga cabai akan kembali meningkat.

Masyarakat kini berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret, mulai dari memperkuat pasokan dari daerah alternatif, memperlancar distribusi, hingga memperbanyak pelaksanaan Gerakan Pangan Murah.

Bagi ibu-ibu rumah tangga, persoalannya sederhana: harga cabai boleh pedas, tetapi jangan sampai membuat belanja dapur ikut “terbakar”.

Penulis: Nofri

Editor: Rio

Sumber Foto: Biro Pekanbaru

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA