Penulis: Liber Simbolon
Editor: Liber Simbolon

Jakarta, Berita presisi.com – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menyiapkan konsep penataan berbeda untuk sejumlah kawasan ikonik di Ibu Kota.
Blok M akan dikembangkan dengan sentuhan Jepang, sementara Pasar Baru dirancang menyerupai kawasan kuliner Myeong-dong di Korea Selatan.
Penataan tersebut akan dilakukan secara bertahap. Setelah pengembangan Blok M, Pemprov DKI Jakarta menargetkan penataan Pasar Baru mulai berjalan pada 2027.
“Kalau Blok M sudah selesai, harapannya adalah di tahun 2027 kita akan start dengan Pasar Baru,” kata Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dalam acara penandatanganan kerja sama badan usaha milik daerah (BUMD) dan badan usaha milik negara (BUMN) di Balai Agung, Balai Kota Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Pramono membayangkan Pasar Baru menjadi kawasan kuliner yang beroperasi selama 24 jam. Konsep tersebut diharapkan dapat menghadirkan suasana seperti Myeong-dong di Seoul, Korea Selatan, yang dikenal sebagai salah satu kawasan tujuan wisata dan kuliner.
“Di Pasar Baru bayangan saya adalah menjadi tempat kuliner 24 jam malam kayak Myeong-dong,” ujarnya.
Sementara itu, kawasan Blok M akan mendapatkan sentuhan Jepang. Pengembangannya mulai disiapkan melalui kerja sama dengan pengembang untuk membangun kawasan berorientasi transit atau transit-oriented development (TOD). Kerja sama tersebut juga mencakup pembangunan Terminal Blok M yang baru.
Setelah kedua kawasan itu, Pemprov DKI Jakarta berencana melanjutkan penataan Glodok dan Kota Tua dengan tetap mempertahankan karakter masing-masing wilayah.
Glodok akan dipertahankan sebagai kawasan Pecinan, termasuk identitas kulinernya. Adapun Kota Tua akan ditata dengan suasana yang menyerupai kawasan Eropa untuk menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
“Pasar Baru tipikalnya Korea. Kalau Blok M udahlah agak Jepang-jepangan dikit juga tidak apa. Baru kemudian nanti kita akan ke Glodok, Kota Tua, Glodok pecinan,” kata Pramono.
Untuk Kota Tua, konsep penataan diarahkan pada segmen wisatawan kelas menengah atas. Pemprov DKI Jakarta berharap kawasan bersejarah tersebut dapat menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi turis asal Eropa.
“Kota Tua akan kita buat untuk middle-up. Artinya mudah-mudahan turis yang datang dari Eropa,” kata Pramono.
Pemprov DKI Jakarta berharap perbedaan karakter di empat kawasan tersebut dapat memperkaya pilihan destinasi wisata di Ibu Kota.
Penataan kawasan juga akan diiringi dengan pengembangan transportasi publik agar masyarakat dan wisatawan lebih mudah mengaksesnya.
Saat ini, Pemprov DKI Jakarta tengah mengembangkan jalur MRT Utara-Selatan yang direncanakan membentang dari Pondok Labu hingga Kota Tua.
Pramono berharap pembangunan MRT dapat mencapai kawasan Harmoni dan Monas pada 2027.
Dengan pengembangan tersebut, aktivitas pembangunan di permukaan jalan dari Monas menuju Kota Tua diharapkan semakin berkurang.
Selain MRT, Pemprov DKI Jakarta menargetkan jalur LRT Kelapa Gading hingga Dukuh Atas dapat rampung pada 2028.
Integrasi antarkawasan juga didukung pembangunan fasilitas bagi pejalan kaki.
Pramono menyampaikan bahwa kerja sama pembangunan pedestrian deck di Dukuh Atas telah ditandatangani. Fasilitas tersebut diharapkan memudahkan masyarakat berjalan kaki dari satu kawasan ke kawasan lainnya.
Pemprov DKI Jakarta turut menyiapkan pembangunan extended concourse, yakni jalur penghubung yang memungkinkan masyarakat mengakses stasiun MRT dari sejumlah gedung di kawasan Jalan MH Thamrin.
Melalui integrasi transportasi publik dan penataan kawasan, Pemprov DKI Jakarta berharap mobilitas masyarakat semakin mudah sekaligus menjadikan Jakarta sebagai destinasi yang lebih menarik bagi wisatawan. (Liber Simbolon)
Penulis: Liber Simbolon
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: Biro Jakarta
Tidak ada komentar