Penulis: LS
Editor: Liber Simbolon


Dr. JS Simatupang
Jakarta, Berita presisi.com – Eksistensi budaya dan adat istiadat Batak kini menghadapi tantangan terbesar dari dalam tubuhnya sendiri: hilangnya minat generasi muda (Naposobulung).
Fenomena keengganan anak muda Batak, khususnya di tanah perantauan, untuk terlibat dalam acara kemargaan bukan lagi sekadar isu musiman, melainkan sebuah krisis identitas yang mengancam kelestarian budaya Tapanuli.
Peringatan keras ini disampaikan oleh Dr. JS Simatupang, tokoh adat yang pernah menjabat sebagai Ketua Umum Toga Simatupang (1990-1995) dan Ketua Umum Togatorop (2014-2018).
Pria berusia 61 tahun ini mengaku sangat miris melihat jurang pemisah yang semakin lebar antara adat dan generasi penerus.
“Saat ini memang kita sangat miris dengan keberadaan generasi muda Batak untuk persoalan budaya peninggalan leluhur. Kalau dikemukakan, krisis ini sudah mencapai titik minus. Saya yakinkan, mungkin 5 atau 10 tahun mendatang, budaya Batak ini bisa terkikis habis jika dibiarkan,” tegas Dr. JS Simatupang dalam wawancara.
Pemimpin Marga Harus Menjadi “Parhobas”, Bukan Minta Dihormati
Menurut Dr. JS Simatupang, Jakarta saat ini menjadi barometer perkembangan budaya Batak.
Sayangnya, banyak pengurus kumpulan marga gagal merumuskan visi dan misi yang inklusif bagi anak muda.
Ia mengkritik tajam pergeseran orientasi para ketua marga masa kini yang dinilainya lebih haus penghormatan ketimbang pengabdian.
“Analisa saya, ketua-ketua marga sekarang bukan menjadi parhobas (pelayan). Maunya hanya minta dihormati. Sebenarnya substansi organisasi sosial itu, ketua tidak dihormati, dia itu parhobas. Generasi muda sekarang merasa, apa untungnya mereka ikut jika diajak berkomunikasi saja tidak?” ungkapnya.
Ia mendorong para pengurus marga untuk mengubah pola pikir. Organisasi kemargaan tidak boleh hanya mengurusi acara seremonial seperti pernikahan atau kedukaan, tetapi harus mulai menyentuh kebutuhan rill Naposobulung.
Dr. JS Simatupang mengambil contoh inovasi yang dilakukan marga lain, seperti marga Sinaga, yang dinilainya berhasil membangun mobilisasi ekonomi dan usaha bersama anggotanya.
Ia juga mengusulkan agar marga-marga mulai menggelar kegiatan yang relevan dengan anak muda, seperti seminar pendidikan, tur budaya ke kampung halaman, atau festival, ketimbang sekadar memungut iuran.
Efisiensi Waktu Acara Adat Tanpa Merusak Makna
Salah satu alasan klasik enggannya generasi muda hadir di pesta adat adalah durasi acara yang dianggap tidak masuk akal, kerap memakan waktu dari subuh hingga malam hari. Menanggapi hal ini, Dr. JS Simatupang sepakat bahwa penyederhanaan waktu mutlak diperlukan.
“Generasi muda membayangkan, mulai jam 4 subuh sampai jam 8 malam satu harian berdiri menyalami tamu. Itu tidak logis, secara ilmu kesehatan juga tidak baik. Waktu sangat bisa dipersingkat tanpa menghilangkan kultur budaya,” jelasnya.
Ia mencontohkan efisiensi yang bisa dilakukan oleh Raja Parhata (juru bicara adat) dan ketua marga. Misalnya, jika ada 10 kakak beradik yang harus memberikan ulos dan kata sambutan, cukup diwakilkan oleh satu orang dengan batasan waktu yang disepakati, serta pemberian ulos bisa diganti dengan amplop.
“Target selesai jam 5 sore itu bisa disepakati saat Martonggo Raja (rapat persiapan adat). Nilai-nilai pembentukan perilaku budaya Batak itu sangat mengagumkan, anak muda sebenarnya rindu, tetapi masalah durasi waktu ini yang membuat mereka enggan,” tambahnya.
Menepis Mitos Adat yang Memiskinkan
Lebih lanjut, Dr. JS Simatupang menepis anggapan bahwa adat Batak selalu memakan biaya fantastis hingga memiskinkan keluarga yang menggelar hajatan. Ia menegaskan bahwa pelaksanaan adat selalu disesuaikan dengan kemampuan (suhut).
“Tidak ada orang Batak, sebesar apapun pesta anaknya, sampai jual harta dan dikejar hutang setelah pesta. Adat Batak memiliki asas gotong royong yang luar biasa. Semua sudah disiapkan dan ditanggung oleh orang banyak. Jika orang tuanya tidak mampu, ya dibikin pesta kecil,” terangnya meluruskan miskonsepsi yang sering menakutkan generasi muda.
Terkait kendala bahasa yang membuat pemuda merasa seperti “orang asing” di adatnya sendiri, Dr. JS Simatupang menititikberatkan peran orang tua.
Kecintaan pada budaya harus dipupuk dari rumah melalui pembiasaan berbahasa Batak dalam komunikasi sehari-hari, bukan dengan cara yang menggurui.
Sebagai penutup, ia menyampaikan pesan menggugah kepada seluruh masyarakat Tapanuli untuk bergerak bersama menyelamatkan warisan leluhur.
“Mari bersama kita bentuk satu wujud visi: bagaimana generasi muda ini terpikat kembali dengan budaya Tapanuli. Pergunakanlah rezeki dan posisi kita untuk membangun citra budaya yang baik kepada anak-anak kita. Jadilah parhobas sejati untuk melestarikan budaya kita agar semakin baik dan semakin dicintai,” pungkas Dr. JS Simatupang. (LS)
Penulis: LS
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: Biro Jakarta
Tidak ada komentar