Penulis: Liber Simbolon
Editor: Liber Simbolon
Foto : Yohanes TolaBandung, BeritaPresisi.com – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) secara resmi menetapkan Yonas Tola sebagai Mandataris Majelis Permusyawaratan Anggota (MPA)/Formatur Tunggal sekaligus Ketua Presidium Pengurus Pusat PMKRI untuk periode 2026–2028. Penetapan tersebut diputuskan dalam forum MPA PMKRI ke-XXXIII Lanjutan yang diselenggarakan di Bandung pada 18–19 Agustus 2026.
Terpilihnya Yonas menjadi momentum krusial bagi PMKRI untuk memperkuat konsolidasi internal, memperkokoh sistem kaderisasi, serta menegaskan kembali peran mahasiswa sebagai elemen penting dalam kekuatan masyarakat sipil.
Dalam arahan pertamanya pasca-penetapan, Yonas menegaskan komitmennya untuk membawa PMKRI tetap berada pada jalur independen. Namun, ia menekankan bahwa sikap independen jangan sampai diartikan sebagai sikap apatis terhadap persoalan sosial.
”PMKRI harus tetap independen. Tetapi independensi tidak boleh dimaknai sebagai ketidakpedulian. Justru karena kita independen, kita harus berani menyuarakan kebenaran, membela kemanusiaan, dan hadir ketika masyarakat membutuhkan,” ujar Yonas.
Selain independensi, Yonas menggarisbawahi pentingnya adaptasi dan relevansi gerakan di era perubahan global yang cepat. Menurutnya, kader PMKRI dituntut tidak hanya menguasai dinamika internal, melainkan mampu membaca dan merespons perkembangan sosial, ekonomi, politik, teknologi, hingga persoalan kemanusiaan.
”PMKRI harus relevan. Kita tidak boleh menjadi organisasi yang hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Kader harus hadir di tengah persoalan rakyat, membaca zaman, menawarkan gagasan, dan ikut bekerja mencari jalan keluar,” tambahnya.
Di tengah momentum penetapan kepemimpinan baru, Yonas turut menyampaikan duka cita mendalam atas musibah gempa bumi yang mengguncang kawasan Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 15 Agustus 2026. Bencana tersebut mengakibatkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta memaksa ribuan warga mengungsi.
Sebagai wujud kepedulian nyata, Yonas menyerukan agar empati seluruh kader PMKRI diwujudkan dalam bentuk aksi konkret di lapangan. Pengurus Pusat bersama cabang-cabang PMKRI di berbagai daerah dipastikan bergerak melakukan koordinasi penyaluran bantuan sesuai kebutuhan para korban.
”Tidak boleh ada satu pun masyarakat yang merasa sendirian dalam situasi seperti ini. Mereka membutuhkan kehadiran dan bantuan kita,” tegasnya.
Arah kepemimpinan PMKRI periode 2026–2028 akan diprioritaskan pada kerja kolaboratif, penguatan kapasitas kader, soliditas organisasi, dan keberpihakan tegas terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Dari forum MPA di Bandung, kepengurusan baru ini dihadapkan pada tantangan besar: tidak sekadar menjalankan roda organisasi, tetapi memastikan PMKRI tetap kritis, independen, relevan, serta konsisten hadir bersama masyarakat. (Liber Simbolon)
Penulis: Liber Simbolon
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: Biro Bandung
Tidak ada komentar