Penulis: GM
Editor: Liber Simbolon

Ketum DPN Lembaga Independen Pembawa Suara Transparansi-INPEST ( Foto-Ist-DPN-INPEST)
Jakarta, Beritapresisi. com – Indonesia merupakan negara dengan Sumber Daya Alam yang melimpah dan tersebar di beberapa daerah seperti bahan baku CPO tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, minyak bumi tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Jawa, emas di Sumatera dan Irian Jaya, Nikel tersebar di Sulawesi dan Maluku, Ikan yang melimpah di laut kita seperti ikan Tuna di laut Natuna dengan bahan baku yang cukup melimpah di sarankan agar pemerintah segera membangun program Hilirisasi yaitu menghasilkan bahan jadi dari bahan baku kita yang cukup melimpah dan membangun infrastruktur sesuai dengan kekayaan alam yang di miliki daerah sebab dengan demikian ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh
INPEST – Independen Pembawa Suara Transparansi mendesak pemerintah mengalihkan fokus belanja negara dari konsumsi ke hilirisasi industri CPO dan ikan tuna. Data menunjukkan hilirisasi mampu dongkrak ekspor hingga $40,7 miliar/tahun dan jadi solusi defisit neraca dagang, ketimbang belanja konsumtif jangka pendek.
Mengubah pola ekspor Indonesia dari komoditas mentah menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi, Fokus utamanya adalah CPO dan ikan tuna, dua komoditas unggulan yang selama ini 70% masih diekspor dalam bentuk mentah.“Kalau Rp365 triliun per tahun yang sekarang direncanakan untuk belanja konsumtif dialihkan ke hilirisasi CPO dan tuna, dalam 5 tahun ekspor kita bisa naik $40,7 miliar per tahun. Itu artinya 3,4 kali lipat ekspor migas,” ujar Ketua Umum DPN NPEST, Ir.Ganda Mora.SH., M.,SI dalam kajian yang dirilis Senin 01/6/2026.
Bersumber dari Data Kunci: Jebakan Ekspor Bahan Mentah Berdasarkan data BPS dan GAPKI 2025, struktur ekspor Indonesia masih didominasi bahan mentah, CPO: Produksi 48 juta ton/tahun, 68% diekspor mentah dengan harga $700/ton. Padahal oleokimia turunannya dihargai $2.200/ton, kosmetik $8.000/ton, Tuna: Potensi lestari 1,2 juta ton/tahun, baru dimanfaatkan 40%. 72% ekspor masih berupa tuna beku whole $3/kg,
Sementara tuna kaleng mencapai $8/kg dan loin $15/kg. berdasarkan Kajian LPEM FEB UI 2024 menyebut value loss akibat tidak hilirisasi CPO mencapai Rp300 triliun/tahun. “Kita seperti jual tanah, padahal bisa jual rumah,” tegas laporan tersebu.
Simulasi Hilirisasi Rp 365 T versus Belanja Konsumtif, INPEST mensimulasikan alokasi Rp 1 triliun/hari atau Rp365 triliun/tahun selama 3 tahun untuk membangun kawasan hilirisasi terpadu CPO dan Tuna: Komoditas Investasi 3 TahunKapasitas Tambahan Potensi Ekspor Baru/Tahun CPO menjadi Oleokimia ditambah biosolar B50 Rp 215 T8 juta ton oleokimia 6 juta ton B50 ditambah $24,2 M
Ikan Tuna 363 Ton Kaleng dan Rp 150 T, 800rb ton produk olahan $8,5 M sama dengan Rp127 T , Total Rp 365 T+$32,7 M sama dengan Rp 490 T/tahun Mulai tahun ke empat , kawasan industri ini menyetor pajak Rp 60-80 triliun/tahun ke APBN dan menyerap 500 ribu tenaga kerja langsung dengan gaji Rp 5-20 juta. Sebagai pembanding, kajian World Bank 2023 menunjukkan belanja makan gratis Rp365 T/tahun hanya menghasilkan multiplier ekonomi 1,3 x dan tidak menciptakan aset produktif. Setelah program stop, efeknya hilang atau tidak ada titik kembali modal
Dampak ke Neraca Dagang & Fiskal Devisa: Tambahan ekspor $32,7 M/tahun akan membalik defisit migas -$15 M menjadi surplus dagang +$47 M/tahun. Ini jadi bantalan utama stabilitas rupiah. Substitusi Impor: Biodiesel B50 bdapat menghemat impor solar 15 juta KL atau $9 M/tahun.
Tepung ikan 200.000 ton yang selama ini impor dari Peru bisa disetop, APBN: Tahun ke-5 net cashflow APBN positif Rp240 T/tahun dari pajak dan dividen, sementara skenario belanja konsumtif defisit Rp318 T/tahun setiap tahun.
Dengan adanya hilirisasi dari bahan bakunya yang melimpah seperti CPO, ikan Natuna, akan menjadikan :
Dorongan Lembaga INPEST kepada Pemerintah agar hilirisasi mengubah pola ekspor:
pertama Jangan Zero-Sum: Alokasikan 70% dana untuk hilirisasi, 30% untuk program gizi sasaran yang wajib serap produk hilir. kedepanya setelah lima tahun kedepan “MBG harus beli tuna kaleng Natuna dan minyak goreng hilir, bukan impor,” tegas Ganda Mora
Kedua Fokus Kawasan Terpadu: Bangun Pengalengan Ikan Tuna di Natuna dan Bangun Industri Hilir CPO di Sumatera dan Kalimantan untuk CPO karena dekat bahan baku, kuatkan geopolitik di Laut China Selatan. Kementerian Investasi mencatat ICOR kawasan terpadu 30% lebih rendah.
Ketiga : Insentif Pajak Berbasis Nilai Tambah: Tax holiday hanya untuk pabrik yang ekspor minimal 60% produk hilir, bukan smelter setengah jadi. Ini meniru kebijakan Thailand untuk industri tuna.
Semua negara maju berangkat dari industrialisasi dulu, baru kuat biayai program sosial. China 1990-2010 tahan banting, sekarang bisa kasih makan 1,4 miliar orang tanpa utang,” .Maka berdasarkan kekayaan alam kita terutama CPO dan Ikan Tuna bila di bangun hilirisasi akan dapat menekan angka eksport dengan menggunakan sendiri bahan baku untuk kepentingan negara dengan mengatur kebutuhan lokal dan eksport sehingga kita tidak lagi bergantung kepada negara lain tetapi mengatur sendiri harga dan kebutuhan Nasional tutup Ganda Mora kepada wartwan senin (01/06/2026)
Penulis: GM
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: DPN INPEST
Tidak ada komentar