Hotline News

INPEST: Dorong Pemerintah Percepat Hilirisasi CPO & Tuna, Ubah Pola Ekspor dari Bahan Mentah ke Produk Bernilai Tinggi

waktu baca 6 menit

Penulis: GM

Editor: Liber Simbolon

Senin, 1 Jun 2026 03:38 244

 

Ketum DPN Lembaga Independen Pembawa Suara Transparansi-INPEST ( Foto-Ist-DPN-INPEST)

Jakarta, Beritapresisi. com – Indonesia merupakan negara dengan Sumber Daya Alam yang melimpah dan tersebar di beberapa daerah seperti bahan baku CPO tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi, minyak bumi tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Jawa, emas di Sumatera dan Irian Jaya, Nikel tersebar di Sulawesi dan Maluku, Ikan yang melimpah di laut kita seperti ikan Tuna di laut Natuna dengan bahan baku yang cukup melimpah di sarankan agar pemerintah segera membangun program Hilirisasi yaitu menghasilkan bahan jadi dari bahan baku kita yang cukup melimpah dan membangun infrastruktur sesuai dengan kekayaan alam yang di miliki daerah sebab dengan demikian ada beberapa keuntungan yang akan diperoleh

INPEST – Independen Pembawa Suara Transparansi mendesak pemerintah mengalihkan fokus belanja negara dari konsumsi ke hilirisasi industri CPO dan ikan tuna. Data menunjukkan hilirisasi mampu dongkrak ekspor hingga $40,7 miliar/tahun dan jadi solusi defisit neraca dagang, ketimbang belanja konsumtif jangka pendek.

Mengubah pola ekspor Indonesia dari komoditas mentah menjadi produk hilir bernilai tambah tinggi, Fokus utamanya adalah  CPO dan ikan tuna, dua komoditas unggulan yang selama ini 70% masih diekspor dalam bentuk mentah.“Kalau Rp365 triliun per tahun yang sekarang direncanakan untuk belanja konsumtif dialihkan ke hilirisasi CPO dan tuna, dalam 5 tahun ekspor kita bisa naik $40,7 miliar per tahun. Itu artinya 3,4 kali lipat ekspor migas,” ujar Ketua Umum DPN  NPEST, Ir.Ganda Mora.SH., M.,SI  dalam kajian yang dirilis Senin 01/6/2026.

Bersumber dari  Data Kunci: Jebakan Ekspor Bahan Mentah Berdasarkan data BPS dan GAPKI 2025, struktur ekspor Indonesia masih didominasi bahan mentah, CPO: Produksi 48 juta ton/tahun, 68% diekspor mentah dengan harga $700/ton. Padahal oleokimia turunannya dihargai $2.200/ton, kosmetik $8.000/ton, Tuna: Potensi lestari 1,2 juta ton/tahun, baru dimanfaatkan 40%. 72% ekspor masih berupa tuna beku whole $3/kg,

Sementara tuna kaleng mencapai $8/kg dan loin $15/kg. berdasarkan Kajian LPEM FEB UI 2024 menyebut value loss akibat tidak hilirisasi CPO mencapai Rp300 triliun/tahun. “Kita seperti jual tanah, padahal bisa jual rumah,” tegas laporan tersebu.

Simulasi Hilirisasi Rp 365 T versus Belanja Konsumtif,  INPEST mensimulasikan alokasi Rp 1 triliun/hari atau Rp365 triliun/tahun selama 3 tahun untuk membangun kawasan hilirisasi terpadu CPO dan  Tuna: Komoditas Investasi 3 TahunKapasitas Tambahan Potensi Ekspor Baru/Tahun CPO menjadi  Oleokimia ditambah biosolar B50 Rp 215 T8 juta ton oleokimia  6 juta ton B50 ditambah $24,2 M

Ikan Tuna  363 Ton Kaleng dan Rp 150 T, 800rb ton produk olahan $8,5 M sama dengan  Rp127 T , Total Rp 365 T+$32,7 M sama dengan  Rp 490 T/tahun Mulai tahun ke empat , kawasan industri ini menyetor pajak Rp 60-80 triliun/tahun ke APBN dan menyerap 500 ribu tenaga kerja langsung dengan gaji Rp 5-20 juta. Sebagai pembanding, kajian World Bank 2023 menunjukkan belanja makan gratis Rp365 T/tahun hanya menghasilkan multiplier ekonomi 1,3 x dan tidak menciptakan aset produktif. Setelah program stop, efeknya hilang atau tidak ada titik kembali modal 

Dampak ke Neraca Dagang & Fiskal Devisa: Tambahan ekspor $32,7 M/tahun akan membalik defisit migas -$15 M menjadi surplus dagang +$47 M/tahun. Ini jadi bantalan utama stabilitas rupiah. Substitusi Impor: Biodiesel B50  bdapat menghemat impor solar 15 juta KL atau $9 M/tahun.

Tepung ikan 200.000  ton yang selama ini impor dari Peru bisa disetop, APBN: Tahun ke-5 net cashflow APBN positif Rp240 T/tahun dari pajak dan  dividen, sementara skenario belanja konsumtif defisit Rp318 T/tahun setiap tahun.

Dengan adanya hilirisasi dari bahan bakunya yang melimpah seperti CPO, ikan Natuna, akan menjadikan :

  1. Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah murah, tapi jadi negara penghasil barang jadi bernilai tin .Menaikkan nilai tambah yang ditahan di dalam negeri Kita punya bahan baku, tapi kalau dijual mentah harganya murah. Sebagai Contoh Somber Daya Alam Kita kalau di kelola dengan sistem Hilirilasi
  • CPO mentah: $900/ton. Kalau jadi oleokimia bisa $2000+/ton.
  • Ikan Natuna kalau cuma diekspor beku: $2/kg. Kalau dijadikan jadi fillet beku, surimi, tepung ikan: $5-8/kg.

  1. Buka lapangan kerja berkualitas
    Ekspor bahan mentah cuma butuh pelabuhan dan kapal. Hilirisasi butuh pabrik smelter, refinery, cold storage, pabrik pengolahan, butuh teknisi, engineer, operator, manajemen. Contoh: , demikian juga dengan Hilirisasi CPO menjadi Oleokimia, Minyak Makan , Bahan Kosmetik akan menyerap jutaan tenaga kerja diseluruh daerah penghasil CPO , demikian juga bila  mengadakan alat tangkap moderen dan membangun Pabrik Pengalengan Ikan Tuna akan menyerap tenaga kerja yang sangat besar
  2. Kurangi ketergantungan impor barang jadi Paradoks, kita eksportir minyak bumi tapi impor bensin. Eksportir ikan tapi impor tepung ikan. 
    Hilirisasi akan menutup lubang ketergantungan dengan negara lain, Devisa kita tidak bocor dan neraca perdagangan membaik.
  3. Bangun ekosistem industri turunan
    Satu pabrik hilir akan menarik puluhan industri pendukung, seperti , CPO dengan produk oleokimia, kosmetik, biodiesel, pakan ternak, Ikan Natuna bangun  industri cold chain, kemasan,pengalengan ikan,minyak ikan Tuna  pariwisata bahari Efeknya berantai, tidak  berhenti di satu pabrik
  4. Punya daya tawar di pasar global
    Negara yang jual bahan mentah dikasih  harga berapa aja diterima.
    Negara yang jual barang jadi  bisa negosiasi, buat merek, buat standar
  5. Manfaatkan sumber daya sebelum habis
    SDA itu nggak terbarukan atau butuh waktu lama buat pulih. Kalau cuma digeruk mentah, 20-30 tahun habis.Dengan hilirisasi, volume ekspor bisa dikurangi tapi nilai devisanya tetap tinggi. Lebih berkelanjutan.

Dorongan Lembaga  INPEST kepada Pemerintah  agar hilirisasi mengubah pola ekspor:

pertama Jangan Zero-Sum: Alokasikan 70% dana untuk hilirisasi, 30% untuk program gizi sasaran yang wajib serap produk hilir.  kedepanya setelah lima tahun kedepan “MBG harus beli tuna kaleng Natuna dan minyak goreng hilir, bukan impor,” tegas Ganda Mora 

Kedua Fokus Kawasan Terpadu: Bangun Pengalengan  Ikan Tuna di Natuna  dan Bangun Industri Hilir CPO di Sumatera dan  Kalimantan untuk  CPO karena dekat bahan baku, kuatkan geopolitik di Laut China Selatan. Kementerian Investasi mencatat ICOR kawasan terpadu 30% lebih rendah.

Ketiga : Insentif Pajak Berbasis Nilai Tambah: Tax holiday hanya untuk pabrik yang ekspor minimal 60% produk hilir, bukan smelter setengah jadi. Ini meniru kebijakan Thailand untuk industri tuna.

Semua negara maju berangkat dari industrialisasi dulu, baru kuat biayai program sosial. China 1990-2010 tahan banting, sekarang bisa kasih makan 1,4 miliar orang tanpa utang,” .Maka  berdasarkan kekayaan alam kita terutama CPO dan Ikan Tuna bila di bangun hilirisasi akan dapat menekan angka eksport dengan menggunakan sendiri bahan baku untuk kepentingan negara dengan mengatur kebutuhan lokal dan eksport sehingga kita tidak lagi bergantung kepada negara lain tetapi mengatur sendiri harga dan kebutuhan Nasional tutup  Ganda Mora kepada wartwan senin (01/06/2026)

        Penulis: GM

        Editor: Liber Simbolon

        Sumber Foto: DPN INPEST

        Tidak ada komentar

        Tinggalkan Balasan

        Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

          LAINNYA