Penulis: Liber Simbolon
Editor: Liber Simbolon
filter: 0; fileterIntensity: 0.0; filterMask: 0; module: j;
hw-remosaic: 0;
touch: (0.18055555, 0.18055555);
modeInfo: ;
sceneMode: Night;
cct_value: 0;
AI_Scene: (-1, -1);
aec_lux: 213.64374;
hist255: 0.0;
hist252~255: 0.0;
hist0~15: 0.0;
Jakarta, Berita presisi.com — Batak Culture Summit 2026 resmi digelar pada 6–7 November 2026 di Nusantara TV Tower (NT Tower), Jakarta. Perhelatan ini menjadi momentum penting dalam upaya merawat identitas serta memperkokoh peradaban masyarakat Batak di era modern.
Mengusung tema “Penguatan Nilai-Nilai Luhur Habatakon sebagai Dasar Peradaban Batak”, ajang berskala nasional ini mempertemukan para tokoh budaya, akademisi, hingga perwakilan dari enam puak Batak. Pertemuan ini difokuskan untuk merumuskan langkah strategis dan menjawab tantangan pewarisan tradisi di tengah pesatnya arus modernisasi dan globalisasi.
Rangkaian kegiatan pada hari pertama, Jumat (6/11/2026), dibuka secara resmi oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Dr. Restu Gunawan, M.Hum. Dalam pembukaannya, ditegaskan pentingnya menjaga kelestarian nilai-nilai lokal sebagai bagian integral dari kekayaan budaya bangsa.
Acara pembukaan tersebut turut dihadiri oleh sederet tokoh penting dan pemangku kepentingan budaya Batak, di antaranya:

Tabhita Napitupulu dan Grace Tampubolon di Acara Batak Culture Summit
Melalui penyelenggaraan Batak Culture Summit 2026, diharapkan nilai-nilai luhur Habatakon tidak hanya berhenti sebagai warisan masa lalu, melainkan terus hidup, relevan, dan menjadi fondasi karakter bagi generasi muda Batak di masa depan.
“Batak Culture Summit 2026 yang berlangsung di Jakarta menegaskan komitmen nyata bahwa pelestarian warisan tradisi tidak boleh berhenti sekadar sebagai seremoni tahunan belaka. Forum budaya ini menjadi ajang konsolidasi gagasan strategis untuk memastikan kebudayaan Batak tetap hidup, relevan, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman,” Tabitha Napitupulu.
Melalui serangkaian diskusi mendalam dan perumusan langkah kongkret, summit ini menekankan pentingnya tata kelola kebudayaan yang berbasis riset serta dokumentasi yang sistematis. Pendekatan ilmiah dan terstruktur ini dinilai krusial agar nilai-nilai tradisi dapat diakses, dipelajari, serta diwariskan secara efektif kepada generasi muda melalui integrasi teknologi digital dan jalur pendidikan, baik formal maupun non-formal.
Langkah ini dipandang sebagai respons strategis masyarakat adat dalam menjawab tantangan era modern, di mana kebudayaan lokal dituntut untuk mampu bersanding harmonis dengan kemajuan teknologi tanpa mengikis jati dirinya.
Dengan merawat akar tradisi dan terus menghidupi nilai-nilai luhur Habatakon, masyarakat Batak tidak hanya sekadar menjaga ingatan kolektif masa lalu, melainkan tengah meletakkan fondasi peradaban yang kokoh, inklusif, dan berkelanjutan untuk menatap masa depan. (Liber Simbolon)
Penulis: Liber Simbolon
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: Biro Jakarta
Tidak ada komentar