Hotline News

Gerakan Credit Union (CU) Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan

waktu baca 5 menit

Penulis: Johannes S

Editor: Liber Simbolon

Selasa, 1 Sep 2026 11:35 4

Sukamakmur, BeritaPresisi.com – Gerakan Credit Union (CU) di Indonesia dimulai dari gerakan akar rumput atau pedesaan dengan filosofi gerakan ekonomi kerakyatan yang berkelanjutan dan gerakan moral. CU dibangun oleh masyarakat sebagai anggota untuk kesejahteraan anggota. CU berlandaskan prinsip dari, oleh, dan untuk anggota.

Perkumpulan Pemberdayaan Perempuan Pijer Podi (YAPIDI) memandang gerakan CU sebagai gerakan kemanusiaan, gerakan solidaritas, gerakan pendidikan kepada masyarakat dan secara khusus kepada perempuan pedesaan. Dari gerakan ekonomi bertransformasi menjadi gerakan solidaritas yang berfokus kepada penguatan kepemimpinan perempuan dalam jabatan-jabatan publik, sebagai pengambil keputusan. Tujuannya secara inklusif adalah memberikan dan menjadi jembatan akses secara inklusif kepada kelompok-kelompok rentan, sekarang trennya dikenal dengan kelompok inklusi.

YAPIDI sengaja memilih tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan” kali ini sebagai upaya percepatan dan penguatan peran strategis perempuan dalam kepemimpinan di jabatan-jabatan publik, sebagai pengambil keputusan di ruang atau jabatan-jabatan publik tempat mereka melayani. Keterlibatan aktif perempuan pada level strategis diharapkan membawa pengaruh serta perubahan positif, tidak hanya bagi perempuan namun bagi semua orang terutama kelompok inklusi ini. Peran inklusif lahir dari pemimpin yang jujur, bertanggungjawab, berintegritas, berempati, berjiwa melayani, dan responsif gender. Melalui CU, kader atau pemimpin-pemimpin CU didorong untuk maju mengambil peran strategis kepemimpinan di desa hingga jenjang yang lebih tinggi. Bersolidaritas, saling mendukung, saling menguatkan serta berkonsolidasi.

Gerakan CU berkomitmen menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya kepemimpinan perempuan yang memiliki kapasitas, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Pesan yang ingin disampaikan melalui tema “Gerakan CU Memacu Peran Strategis Kepemimpinan Perempuan” kali ini adalah:
Percepatan membangun kapasitas para kader perempuan di desa;
Pendampingan dan mentoring para pemimpin perempuan melalui program Sekolah Perempuan Merdeka;
Pendalaman empati sosial, responsif gender serta konsolidasi gerakan guna mendorong dan melahirkan kebijakan inklusif;
Adanya inovasi yang dibutuhkan berbasis komunitas dan gerakan bersama yang berkeadilan gender menuju keutuhan ciptaan.

Perempuan bukan sekedar sebagai anggota CU, namun juga pilar utama menggerakkan kehidupan ekonomi keluarga. Memiliki suara strategis dalam mengambil keputusan. Membawa dampak yang lebih besar dan meluas bagi seluruh masyarakat. Transparansi serta keberlanjutan merupakan kata kunci sistem yang dibangun YAPIDI di CU setiap desa.

Memanusiakan manusia, bukan menganggap masyarakat sebagai objek. Melainkan melakukan penyadaran, pendidikan, dan kabar baik gerakan CU yang dibangun di masing-masing desa. Karenanya YAPIDI hadir melayani dan bersama para perintis CU di desa membuka CU di desa- desa yang belum ada CU sama sekali. Karena kita ingin mencerdaskan manusia, bukan membuat mereka tergantung dan semakin terpuruk karena lepas dari rentenir, masuk ke peminjaman berganda, bahkan triple peminjaman. Hal ini memicu kekerasan terhadap perempuan yaitu beban ganda (double burden) yang selama berpuluh-puluh tahun kita advokasi. Ketidakadilan gender seperti pemiskinan (marginalisasi), pelabelan (stereotip), kekerasan (violence), penomorduaan (subordinasi) dan beban ganda (double burden).

Dari data YAPIDI per Juni 2026 ada sebanyak 836 anggota kelompok dari 20.368 anggota yang duduk di jabatan publik (sebesar 24%). Diharapkan kedepan dengan akselerasi gerakan kali ini ditargetkan meningkat menjadi 30% anggota kelompok duduk di jabatan publik. Wajah CU bertransformasi menjadi lembaga keuangan mikro sekaligus wadah gerakan perempuan yang lebih inklusif, responsif gender, profesional dan berdampak nyata bagi anggota dan masyarakat pada umumnya.

Perempuan juga diharapkan semakin kritis dalam membaca situasi dan merespon kabar berita serta kebijakan yang berkembang saat ini. Termasuk peran perempuan dalam memelihara alam dan lingkungan kaitannya dengan pertanian dan ketahanan pangan. Menekan laju dampak bencana ekologis. Termasuk kemajuan teknologi informasi tanpa sekat dan tanpa batas yang menyerang anak tanpa jeda setiap hari. Kemudahan berdampingan dengan ancaman kekerasan terhadap anak, juga kelompok rentan.

Perempuan hadir sebagai pribadi yang utuh, sebagai ibu, sebagai istri, sebagai saudara, sebagai pemimpin yang cerdas, berempati dan bijaksana. Mimpi keadilan dan kesetaraan tidak hanya dalam angka, namun dalam peran pemimpin inklusif dan dampak positif yang meluas dan berkelanjutan. CU tak sekedar lembaga keuangan mikro melainkan wadah kelas belajar mencetak para pemimpin perempuan. Para pemimpin dari akar rumput.

Sudah 43 tahun sejak 1983 YAPIDI hadir dari desa-desa bersama para perintis untuk merintis dan mengembangkan kabar baik bagi semua orang melalui gerakan CU. Saat seolah tidak ada solusi buat masyarakat kecil, saat gerakan rakyat terasa menakutkan bagi kebanyakan orang. Harapannya tidak muluk-muluk. Ada perbaikan hak dasar (asasi) dan semakin baik setiap harinya. Kata kunci keadilan dan kesetaraan adalan kata-kata universal yang diakui oleh seluruh dunia yang membuat kita mampu menjadi pribadi-pribadi yang berdaulat dan mampu saling mendukung, bersolidaritas satu dengan yang lainnya.

Melalui kegiatan ini harapannya menjadi pengingat sejarah bagaimana CU bersama YAPIDI, kelompok masyarakat sipil sangat berupaya dalam pemberdayaan perempuan, pembangunan kesetaraan dan kesejahteraan rakyat melalui gerakan credit union. Bagaimana gerakan-gerakan kecil dari desa melalui CU dapat melahirkan, membangkitkan dan memacu peran strategis kepemimpinan perempuan. Biasanya momen ini diperingati setiap 5 tahun sekali atau sesuai kesepakatan bersama kelompok dampingan YAPIDI dengan peran serta seluruh pengurus dan anggota credit union dari seluruh kelompok dampingan YAPIDI. Merayakan semangat gerakan Credit Union dan merefleksikan sejarah gerakan Credit Union, proses mengasah serta melahirkan kepemimpinan perempuan melalui Credit Union, mempromosikan pencapaiannya dengan menjunjung keadilan dan kesetaraan gender, mengakui kerja keras dan berbagi pengalaman anggota. Meningkatkan kesadaran tentang pekerjaan luar biasa yang dilakukan para perempuan pedesaan melalui Credit Union di seluruh dunia terutama di daerah dampingan YAPIDI di Sumatera Utara dan Aceh. Bagaimana elemen analisis gender yaitu akses, partisipasi, kontrol dan manfaat dapat berproses kearah yang lebih baik dari waktu ke waktu sehingga melahirkan para pemimpin perempuan sebagai wadah memacu peran strategis kepemimpinan perempuan dimana pun berkarya. (Johannes S)

 

Penulis: Johannes S

Editor: Liber Simbolon

Sumber Foto: Biro Sumut

Tag Terkait

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA