Penulis: Lambok Simamora
Editor: Liber Simbolon

Saya Lambok Simamora, Sekretaris Jenderal Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST). Inilah pandangan saya sebagai bagian dari rakyat yang menyaksikan semuanya dengan mata kepala sendiri:
Saya adalah salah satu relawan militan Pak Ganjar pada Pilpres 2024. Pada awalnya, hingga pertengahan masa kampanye, Pak Jokowi masih berpihak kepada Pak Ganjar. Namun di kemudian hari, arahnya berubah karena putra beliau, Mas Gibran, maju sebagai calon wakil presiden mendampingi Pak Prabowo. Keputusan itu, saya pahami, adalah pilihan yang sangat berat dan penuh pertimbangan mendalam. Pak Jokowi tahu sepenuhnya bahwa langkah itu berarti berseberangan dengan partai yang pernah mengusungnya menjadi Presiden. Sebuah keputusan berani yang berisiko besar, namun beliau tetap melanggar dengan keyakinan yang dipegang teguh.
Sejak awal saya berpendapat dengan jujur: jika Pak Prabowo memimpin bangsa ini, Indonesia tidak akan melangkah ke arah yang lebih baik. Beliau dinilai tidak akan mampu melanjutkan dan menyelesaikan program-program besar yang telah dirintis dan belum tuntas oleh Pak Jokowi. Karakter Pak Prabowo yang sangat menjunjung tinggi kesetiaan kepada teman, dikhawatirkan justru melindungi orang-orang di sekelilingnya yang kurang dapat dipercaya. Bahkan program Makan Bergizi Gratis yang digagas, sejak awal saya telah memperingatkan: program raksasa tanpa pengawasan yang kuat sangat rentan menjadi ladang korupsi. Dan ternyata, kekhawatiran saya itu kini terbukti menjadi kenyataan.
Banyak pihak meragukan Mas Gibran sejak awal. Segala cara digunakan untuk menyerang, merendahkan, dan mencari-cari kesalahan. Namun selama dua tahun ini, saya mengamati dengan saksama dan terbuka: Mas Gibran membuktikan semuanya dengan kinerja nyata. Beliau tampil luar biasa — sungguh-sungguh merakyat, turun ke pelosok desa yang jauh, menyapa rakyat kecil dengan hati yang tulus, tanpa lelah, tanpa pamer, tanpa kesombongan sedikit pun. Di saat orang lain sibuk berdebat dan membagi kekuasaan, Mas Gibran justru sibuk berkelana mendengar, menyentuh, dan melayani rakyat dari yang paling bawah.
Dari pengamatan inilah saya menyimpulkan: menjadi Pemimpin Bangsa ini bukan hanya soal kecerdasan otak, bukan sekadar gelar tinggi atau kemampuan berbicara yang indah. Yang paling utama dan sangat diperlukan adalah kecerdasan batin, ketulusan jiwa, kelembutan hati, serta kerendahan hati yang tulus melayani. Dan semua sifat mulia itu terlihat nyata pada diri Mas Gibran. Beliau memiliki karakter yang pantas, mampu melanjutkan estafet pembangunan, dan sangat layak serta berhak menjadi Pemimpin Bangsa ini di masa depan.
Orang-orang di lingkar kekuasaan saat ini merasa tidak mampu menandingi kinerja nyata Pak Jokowi. Itulah sebabnya mereka menyerang pribadi beliau lewat tuduhan-tuduhan tak berdasar, laporan yang ternyata keliru dan dibantah sendiri. OCCRP pun terbukti tidak memiliki bukti yang kuat, sehingga seluruh tuduhan itu gugur sendiri demi kebenaran. Mereka menyerang Pak Jokowi karena sadar: mereka tidak mampu menandingi karya nyata yang telah beliau bangun untuk rakyat Indonesia.
Yang membuat kami begitu mencintai Pak Jokowi adalah karya nyata yang terwujud di segenap penjuru negeri. Beliau membuka keterisolasi wilayah terjauh lewat Jalan Trans Papua dan Trans-Kalimantan. Ribuan kilometer Jalan Tol Lintas Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan Bali yang menghubungkan antar-pulau dan mempercepat perdagangan rakyat. Pelabuhan baru, Bandara baru, serta Kereta Cepat Jakarta–Bandung yang mempersingkat waktu dan membanggakan martabat bangsa.
Beliau membangun Rumah Sakit dan Puskesmas hingga ke desa-desa terjauh, serta puluhan ribu sekolah baru dan hunian layak bagi rakyat. Waduk, Bendungan, dan jaringan irigasi yang menjamin ketersediaan air dan meletakkan dasar swasembada pangan. Listrik menjangkau seluruh desa, bahkan hingga ke pedalaman Papua dan daerah terluar. Infrastruktur yang beliau bangun menjadi kebanggaan kita semua — Jalan Tol, MRT, LRT — yang memudahkan pergerakan rakyat dan mempercepat pertumbuhan ekonomi di seluruh penjuru negeri.
Sepuluh tahun beliau memimpin bangsa. Dua tahun di antaranya adalah masa pandemi COVID dan krisis ekonomi global yang melanda hampir seluruh dunia. Namun di tengah badai itu, Pak Jokowi tetap mampu menjaga kestabilan ekonomi bangsa. Pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di angka 5% — sebuah pencapaian luar biasa yang membuktikan betapa hebatnya kepemimpinan beliau dalam menjaga rakyat tetap berdiri tegak.
Mengapa hingga hari ini Pak Jokowi tetap dicintai rakyat dari Sabang sampai Merauke? Karena Pak Jokowi tulus mencintai seluruh rakyat Indonesia tanpa membeda-bedakan. Menurut penilaian saya, beliau adalah Presiden terbaik sepanjang sejarah Republik ini. Dan saya yakin, berkat ketulusan dan pengabdiannya yang tiada henti, nama serta jasa Pak Jokowi akan tetap abadi di hati rakyat Indonesia — hari ini, esok, dan selamanya.
Terima kasih, Pak Jokowi. Tetaplah sehat, kuat, dan senantiasa diberkahi.
Lambok Simamora
Sekretaris Jenderal Independen Pembawa Suara Transparansi (INPEST)
Penulis: Lambok Simamora
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: Biro Jakarta
Tidak ada komentar