Penulis: Saiful Huda Ems
Editor: Liber Simbolon

Saiful Huda Ems
Oleh: Saiful Huda Ems.
Jakarta, BeritaPresisi.com – Di masa KAPOLRI Listyo Sigit Prabowo (LSP) Mabes Polri itu seperti ada dua, yang satu di Jl. Trunojoyo Jakarta Selatan dan yang satunya lagi di Solo. Di masa itu ada beberapa teman Polisi yang curhat ke saya, katanya begini;”Nama baik Polisi jadi hancur lebur oleh KAPOLRI LSP, karena institusi POLRI sudah diseret-seret oleh LSP kesana kemari yang membuat kami terus menerus diolok-olok rakyat”. Ndilalah (bhs. Jawa) KAPOLRI LSP pun kemudian diganti, dipindah ke KSP dan yang mengejutkan, sebulan kemudian LSP ditangkap dan ditahan, karena kasus penyadapan yang paling edan sepanjang sejarah Kepolisian R.I.
Banyak orang meyakini, LSP merupakan KAPOLRI terburuk dan terjahat sepanjang sejarah. Ini semua tak terlepas oleh karena kedekatannya dengan Jokowi, mantan Presiden RI yang paling sering menggunakan institusi POLRI untuk kepentingan keluarganya, mantan Presiden RI yang paling kemaruk, serakah kekuasaan sepanjang zaman Indonesia berdiri. Berkuasa secara nasional hanya dua periode, namun lebido berkuasanya sepertinya sampai kiamat tidak akan pernah padam, kecuali maut atau penjara menghentikannya. Benar apa tidak? Ayo jawab benar dengan penuh semangat, tidak perlu gentar !.
Namun semenjak KAPOLRI berganti ke Jenderal Suyudi Aryo Seto, wajah POLRI berubah drastis. Orang-orang loyalis LSP dan Jokowi benar-benar di PRESISI (Preteli Siji-Siji), dimutasi kesana kemari, yang membuat LSP jadi kebingungan dan memindahkan alat sadap tercanggih yang bernilai triliunan rupiah, yang konon dibeli dari Israel di masa Pemerintahan Jokowi itu dipindahkan oleh LSP dan loyalisnya ke rumah-rumah pribadi/dinas, tidak lagi berada di Mabes POLRI Jl. Trunojoyo Jakarta Selatan. Alat sadap dibeli pakai uang rakyat tapi dipakai untuk kepentingan pribadi, ini kan benar-benar kurang ajar?!.
LSP benar-benar sontoloyo, bukannya menyadap para infiltran asing yang mau merusak Indonesia, namun malah menyadap Presiden Prabowo Subianto dan para pejabat negara, termasuk para elit partai dan tokoh-tokoh oposisi. Ini gila benar, benar-benar gila. Beruntung sekali Polisi kita sudah banyak yang berubah, kembali setia pada Pancasila dan NKRI, dan tidak lagi setia pada LSP dan Jokowi. Maka tidak heran kiranya, kemudian LSP dan para jenderal penyadap lainnya ditangkapi satu persatu. KAPOLRI Jenderal Suyudi Aryo Seto benar-benar top, sudah soleh, pemberani lagi, setidaknya sampai hari ini, mudah-mudahan juga sampai akhir kepemimpinannya kelak.
Mabes POLRI di bawah kepemimpinan KAPOLRI baru yang jujur dan pemberani itu, Suyudi Aryo Seto mengembalikan Mabes POLRI ke tempat semula, di Jl. Trunojoyo Jaksel, sehingga tidak ada lagi Mabes POLRI bayangan yang sebelumnya ada di Solo. Lalu bagaimana dengan nasib LSP selanjutnya? Apa perlu dihukum mati saja? Kan dia selama menjadi KAPOLRI telah merusak citra POLRI gila-gilaan, sampai muncul istilah Partai Coklat segala? Belum lagi dengan kasusnya yang baru, penyadapan yang mengarah ke arah Makar itu.
Terus bagaimana dengan Jokowi, apa dia bisa tidur nyenyak seperti sebelumnya, ketika LSP belum terbongkar kejahatannya? Kedatangan Jokowi ke Pengadilan Jakarta Timur untuk menjadi saksi kasus tuduhan Ijazah Bodongnya, bagi saya hanyalah usaha terakhir Jokowi untuk merebut hati rakyat, melalui kemahiran utamanya, pencitraan dan jurus dizhalimi atau dikorbankan, sehingga rakyat bisa lupa tentang keahlian pencitraan dan ilmu perkeliruannya. Namun setelah ini Jokowi mau apa lagi, selain harus menghiba pada Presiden Prabowo agar anaknya tidak diturunkan oleh parlemen atau digulingkan oleh rakyat melalui aksi jalanan?! Sapere aude !…(SHE)
Penulis: Saiful Huda Ems
Editor: Liber Simbolon
Sumber Foto: Biro Jakarta
Tidak ada komentar