
Foto dokumentasi istimewa.

Sambas, Beritapresisi.com – SD Negeri 1 Aruk di Desa Sebunga, Kecamatan Sajingan Besar, Kabupaten Sambas, merupakan salah satu sekolah dasar tertua di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia. Berdiri sejak tahun 1972, sekolah yang berada di beranda terdepan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) itu kini menghadapi berbagai keterbatasan sarana dan prasarana, Selasa (14/7/2026).
Seorang alumni SD Negeri 1 Aruk mengatakan sekolah tersebut memiliki nilai sejarah sekaligus menjadi simbol pendidikan di wilayah perbatasan. Namun, menurutnya, kondisi fasilitas yang ada saat ini memerlukan perhatian lebih serius dari pemerintah.
Kepala SD Negeri 1 Aruk, Ius, membenarkan bahwa sekolah yang dipimpinnya telah berdiri selama lebih dari lima dekade. Seiring bertambahnya usia bangunan, berbagai fasilitas dinilai perlu diperbarui agar proses belajar mengajar dapat berlangsung lebih optimal.
“Kami berharap pemerintah dapat menambah ruang kelas. Saat ini ada murid yang belajar di ruang perpustakaan, kantin, bahkan ada yang mengikuti proses belajar mengajar dengan duduk di lantai,” ujarnya.
Selain keterbatasan ruang belajar, Ius juga mengungkapkan kebutuhan akan penambahan tenaga pendidik. Menurutnya, setiap tahun terdapat guru yang memasuki masa pensiun sehingga regenerasi tenaga pengajar menjadi kebutuhan yang mendesak.
“Bangunan sekolah kami sudah cukup tua. Kami berharap pemerintah dapat merevitalisasi sekolah ini sekaligus menambah tenaga guru di SD Negeri 1 Aruk yang berada di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia,” katanya.
Ketua Komite SD Negeri 1 Aruk, Junedi Manurung, turut berharap pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap pendidikan di wilayah perbatasan. Menurutnya, sekolah yang memiliki jumlah siswa kurang dari 250 orang tersebut hingga kini masih mengalami kekurangan ruang kelas.
“Di samping sekolah kami sudah merupakan wilayah Biawak, Malaysia. Kami di Aruk adalah garda terdepan Indonesia. Karena itu kami berharap fasilitas pendidikan di sini juga mendapat perhatian,” ungkapnya.
Junedi mengatakan pihak sekolah bersama komite dalam waktu dekat akan menggelar rapat untuk mencari solusi sementara atas keterbatasan ruang belajar. Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah membagi waktu kegiatan belajar mengajar menjadi sistem masuk pagi dan siang.
Harapan serupa juga disampaikan seorang wali murid yang meminta identitasnya tidak dipublikasikan. Ia berharap pemerintah semakin serius memperhatikan pembangunan pendidikan di kawasan perbatasan, mengingat jarak SD Negeri 1 Aruk dengan wilayah Malaysia hanya beberapa kilometer.
“Sebagai masyarakat yang tinggal di beranda terdepan NKRI, kami berharap pemerintah dapat merevitalisasi SD Negeri 1 Aruk agar fasilitas pendidikan di sini semakin baik dan mampu memberikan layanan belajar yang layak bagi anak-anak kami,” tuturnya.
Kondisi SD Negeri 1 Aruk menjadi gambaran bahwa pembangunan pendidikan di kawasan perbatasan masih memerlukan perhatian berkelanjutan. Di wilayah yang menjadi wajah terdepan Indonesia, ketersediaan ruang belajar yang memadai, tenaga pendidik yang cukup, serta sarana pendidikan yang layak diharapkan dapat mendukung kualitas pendidikan bagi generasi penerus bangsa.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada informasi yang menunjukkan adanya tanggapan resmi dari instansi pemerintah terkait mengenai usulan revitalisasi dan penambahan ruang kelas di SD Negeri 1 Aruk.
Tidak ada komentar