Hotline News

Rapidin Simbolon : Pancasila Hidup Lewat Tortor dan Ulos, Saat Hadiri Pesta di Sitio-tio Samosir

waktu baca 3 menit

Penulis: Ranto S

Editor: Liber Simbolon

Jumat, 26 Jun 2026 10:37 32

 

Di Tepian Toba, Pancasila Hidup Lewat Tortor dan Ulos: Rapidin Simbolon Pulang ke Sitio-tio

Samosir, BeritaPresisi.com – Bunyi sarune bersahut dengan dentuman gondang sabangunan memecah hening perbukitan Danau Toba, Jumat 26 Juni 2026. Di halaman Tugu Pomparan Oppu Sondang Raja Sinaga Boru, Desa Buntu Mauli, Kecamatan Sitio-tio, ratusan keturunan berkumpul dalam sebuah pesta adat yang sarat makna.

Tortor dipersembahkan bergantian. Ulos disematkan bahu ke bahu. Doa-doa dalam bahasa Batak mengalir, menautkan generasi masa kini dengan leluhur yang mendahului.

Hadir Sebagai Boru, Membawa Pesan Kebangsaan di tengah prosesi itu hadir Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara sekaligus Anggota Komisi XIII DPR RI, Drs. Rapidin Simbolon, M.M.

Kehadirannya lebih dari sekadar tamu undangan keluarga. Sebagai pihak boru, Rapidin duduk dalam tatanan Dalihan Na Tolu, menjalankan peran adat yang sudah mengakar ratusan tahun.

Baginya, pesta tugu bukan hanya seremoni mengenang leluhur. “Ini ruang tempat nilai persaudaraan, gotong royong, penghormatan kepada orang tua, dan musyawarah diwariskan,” ujarnya di sela acara.

Tanpa banyak pidato, nilai itu dipraktikkan. Lewat tortor mangaliat, saling memberi ulos, hingga penghormatan kepada hula-hula, tiga pilar Dalihan Na Tolu kembali ditegakkan: _Somba Marhula-hula_, _Elek Marboru_, dan _Manat Mardongan Tubu_. Tiga prinsip yang menjaga harmoni, toleransi, dan kebersamaan masyarakat Batak.

Pancasila yang Sudah Ada Sejak Lama
Nilai-nilai itu beririsan dengan gagasan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila. Beberapa hari sebelumnya, BPIP melalui Direktorat Jaringan dan Pembudayaan menggelar kegiatan di Samosir, Kamis 18 Juni 2026.

Analis Kebijakan Ahli Madya Galung Ibrahim menegaskan, Pancasila tidak datang sebagai hal baru di Tanah Batak. “Yang dilakukan adalah menghidupkan kembali nilai-nilai yang sejak lama tumbuh dalam budaya. Dalihan Na Tolu adalah contoh nyata bagaimana Pancasila hidup dalam keseharian,” katanya.

Menurut Galung, keteladanan tokoh adat jauh lebih mengena bagi generasi muda dibanding ceramah formal. Ia berharap desa-desa di Samosir bisa menjadi “desa Pancasila”: kuat secara budaya, mandiri secara ekonomi, dan harmonis secara sosial.

Jalan dan Amanah yang Terus Diperjuangkan

Di sela adat, Rapidin menyinggung ikatan batinnya dengan Sitio-tio. Salah satu yang masih ia perjuangkan di Senayan adalah peningkatan akses jalan menuju Rassang Bosi. Jalan itu, katanya, telah ia mulai sejak menjabat Bupati Samosir.

“Jalan ini masih menjadi bagian dari perjuangan saya di Jakarta,” ucapnya, menunjuk jalur yang pernah dibangunnya dulu.

Menjelang penutup, hula-hula menganugerahkan ulos kepada Rapidin. Kain adat itu disematkan bersama doa: agar diberi kesehatan, rezeki, dan kekuatan menjalankan amanah sebagai wakil rakyat.

“Semoga sehat selalu dan diberi kemampuan menjalankan tugas serta amanah,” ucap perwakilan marga Sinaga.

Rapidin membalas dengan terima kasih. Ia berharap tali persaudaraan antarketurunan tetap terjaga. “Di tengah perubahan zaman, adat dan budaya tetap menjadi fondasi penting untuk menjaga persatuan,” ujarnya.

Di Rassang Bosi sore itu, Pancasila tidak hadir dalam bentuk spanduk atau orasi. Ia hidup lewat denting gondang, ayunan tortor, hangatnya ulos, dan musyawarah keluarga besar Sinaga Boru — nilai yang telah tumbuh di tepian Danau Toba jauh sebelum dirumuskan menjadi dasar negara. (Ranto S)

Penulis: Ranto S

Editor: Liber Simbolon

Sumber Foto: Biro Samosir

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA